
''Haaaiiii, apa kabar?''
Teriakan dan jerit kecil kegembiraan langsung memenuhi udara. Para ibu muda yang baru bertemu itu tanpa ragu memeluk dan cipika-cipiki. Tantri tersenyum lebar bertemu dengan teman-teman lamanya, teman-teman semasa kecilnya.
Hm, tentu banyak yang berubah dari teman-temannya. Maklum saja, mereka bertemu ketika sudah menikah dan punya buntut. Dan, dilihat dari penampilan, mereka tentu berbeda dibanding bertahun-tahun yang lalu. Dari banyak teman yang datang, Tantri melihat gaya Citra yang tampak beda.
Citra adalah seorang ibu rumah tangga dengan dua anak. Yang beda dari Citra adalah penampilannya yang terlihat 'kinclong' dengan barang-barang branded yang menghiasi sekujur tubuhnya. Maklum, suaminya adalah seorang pejabat BUMN sukses. Untunglah, sikap Citra tak berubah. Tetap ramah dan full senyum.
Ada pula Susan, yang meski penampilannya tak 'sekinclong' Citra, punya 'jejak mewah' lewat cerita-ceritanya tentang bisnisnya yang berkembang pesat di sana-sini.
Mendengar cerita teman-temannya, Tantri hanya bergumam dalam hati. ''Hebat ya teman-temanku.''
Beberapa bulan berselang, di kantornya, Tantri kembali bertemu dengan teman lamanya. Kali ini adalah temannya sekantor yang telah mengundurkan diri. Ketika bertemu di halaman parkir kantor, Tantri sempat terkagum-kagum dengan mobil SUV terbaru yang dikendarainya. Lagi-lagi, Tantri hanya bergumam dalam hati, ''Wah, hebat ya temanku ini. Bisnisnya maju.''
**********
Satu pagi. Setelah anak-anak berangkat sekolah dan suami bekerja, Tantri menikmati hari. Kendati berkarier di luar rumah, jam kerja Tantri lebih fleksibel. Dia bisa datang lebih siang ketimbang karyawan yang punya jam kerja nine to five.
Dan, pagi itu, dengan sepotong cake lemon dan secangkir cappucino hangat, Tantri menikmati kesendirian di pagi senyap di depan televisi. Beragam acara pagi televisi berseliweran di depan mata.
Mulai dari ceramah agama yang membahas berbagai persoalan rumah tangga. Ada yang berurai air mata mengeluhkan sang suami yang mendua hingga konflik dengan orangtua. Perlahan, ingatan Tantri melayang pada keluh kesah Citra yang sempat curhat tentang kondisi rumah tangganya. Bukan bermasalah dengan suami, Citra justru merasa ada sedikit benturan dengan saudara-saudara sang suami.
Hm, berpindah saluran, Tantri berhadapan dengan gempuran infotainment yang riuh dengan pemberitaan artis yang kawin cerai, tudingan selingkuh, sampai konflik di ranah hukum yang bikin pusing.
Merasa jenuh, Tantri memilih untuk mematikan televisi. Cappucino yang tinggal separuh diisapnya perlahan. Benaknya melayang. Tanpa bisa dikendalikan, dia membandingkan kehidupannya dengan teman-temannya itu.
Pada satu hal, Tantri mungkin saja tak terlalu istimewa ketimbang teman-temannya lain. Bila dibandingkan teman-temannya yang naik mobil terkini atau mengenakan barang-barang bermerek untuk menunjang penampilan, dia boleh saja tak ada apa-apanya.
Tantri menghela napas. Sepotong cake yang telah tandas dituntaskan dengan meneguk kembali cappucinonya.
Pikirannya kembali mengembara. ''Namun, di luar urusan materi, banyak hal yang patut disyukuri,'' ujarnya masih dalam hati. ''Aku punya suami yang baik hati dan bertanggung jawab pada keluarga, anak-anak yang sehat dan cerdas, orangtua yang baik dan tanpa henti berdoa untuk anak-anaknya. Juga nikmat kesehatan yang senantiasa dilimpahi Allah selama ini.''
Tanpa terasa, bulir air mata Tantri jatuh. Ya, terkadang kita tidak mensyukuri banyak hal yang sudah ada di tangan kita dan meratapi hal-hal yang tak kita miliki.
Rasa syukur pun memenuhi benak dan jiwanya. Tiba-tiba saja hatinya terasa nyaman dan pikiran ringan. Cappucinonya pun dihabiskan segera. ''Hm, apa mungkin ini efek dari cappucino yang menyamankan?'' Entahlah. Yang pasti, ucapan syukur terus bergema dalam hatinya dan Tantri menjelang hari dengan semangat baru.
Alhamdulillah...
foto: sheknows.com


