
Hujan mengguyur deras. Gentha (10 tahun) bolak-balik melongok ke luar rumah. ''Ayah, boleh tidak Gentha mandi hujan?'' tanya si upik. Saya tahu, pertanyaan itu sengaja diajukan kepada saya, ayahnya. Sebab, seperti biasanya, ibunya sudah pasti tidak akan mengizinkan anak semata wayang kami itu mandi hujan.Orangtua memang sering melarang anaknya mandi hujan. Pasalnya, karena kedinginan akibat hujan, sering kali menyebabkan anak-anak sakit. Rasa sayang yang hadir dalam diri para ayah bunda, menjadikan mereka tidak ingin anaknya sakit lantaran hujan.
Pedahal, bagi anak-anak sendiri, mandi hujan merupakan suatu kegiatan yang sangat menyenangkan. Saya ingat benar, di masa kecil dulu, bermain hujan, berlari-larian, main bola di tengah guyuran hujan, bukan main asyiknya. Dalam diri anak-anak selalu muncul keinginan bermain dan mandi hujan. Bahkan, mereka tidak peduli bila bibirnya membiru karena kedinginan. Yang penting, mereka dapat bersukacita di tengah derasnya guyuran hujan. Saat si upik kami mengajukan pertanyaan itu, sebagai orangtua saya merasa 'tertodong'. Bagaimana menyikapinya? ''Sudah tanya ke Ibu?'' saya balik balik bertanya. ''Kalau tanya Ibu pasti tidak diizinkan,'' jawab Gentha memastikan. Ia tahu persis, bahwa ibunya tidak pernah mengizinkannya mandi hujan. ''Nanti kamu sakit,'' ujar Gentha menirukan jawaban yang selalu disampaikan ibunya ketika ia pamit mau mandi hujan.
Wajah Gentha tampak memandangku penuh harap. Sementara teman-teman sebayanya sudah menunggu di depan teras. Mereka sudah basah kuyup semua. Usia mereka rata-rata sekitar sepuluh tahunan. ''Ayo Gent, ayoo..., nanti keburu hujannya berhenti...,'' teriak mereka dengan tangan menyilang mendekap dada karena kedinginan.''Tuu, Yah, teman-teman sudah menunggu,'' rengek Gentha.Sebagai ayah, tentu saya ingin bersikap bijak. Sikap bijak itu berarti tidak akan menyalahkan larangan ibu Gentha dan juga tidak serta-merta meluluskan permintaan anak.
''Begini...,'' saya mulai mencoba menjelaskan. Saya jelaskan, orangtua melarang anaknya mandi hujan, karena mereka tidak ingin anaknya sakit. Dan sakit itu terjadi, disebabkan karena dinginnya air hujan. Apalagi jika perut kosong. Rasa dingin itu akan menjadikan anak-anak mudah masuk angin dan perut kembung. ''Jadi, kalau kamu mau mandi hujan,'' lanjut saya, ''sebaiknya perutmu tidak dalam keadaan kosong dan jangan lupa minum vitamin C. Karena vitamin C akan membuat darah kamu menjadi lebih pekat. Dengan begitu, kamu lebih tahan terhadap serangan penyakit.''
Gentha kontan menyerbu lemari makan. Ia buru-buru makan, takut hujan segera berhenti. Apalagi teman-teman yang menunggu didepan rumah sudah tidak sabar. ''Ayo Gent, cepetan ...,'' teriak mereka. ''Iyaa, aku makan dulu biar nggak sakit,'' teriak Gentha dari dalam rumah. Selesai makan dan siap bermain, hujan mulai reda. Sang Gentha kecewa karena tidak dapat mandi hujan sepuasnya. Esoknya, ketika mendung mulai pekat, ternyata ia sudah bersiap diri. Ia sudah makan dan minum vitamin. Ketika hujan mulai turun, ia langsung pamit pada kepada saya. ''Ayah, Gentha sudah makan dan minum obat, jadi boleh mandi hujan, kan?'' Belum lagi saya menjawab, ia sudah berlari menyambangi teman-temannya di luar.
(dikutip dari Republika, 2008)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar